Tottenham Hotspur sedang menghadapi musim yang bisa jadi menjadi salahs atu musim terburuk dalam sepanjang perjalanan mereka. Sejak pertama ditugaskan untuk mengatur strategi bermain tim ini, Thomas Frank harus berhadapan dengan hasil yang jauh dari kata memuaskan. Meski perjalanannya bersama mereka baru berjalan selama beberapa bulan, tapi waktu yang diberikan ini tidak bisa cukup meyakinkan penggemar mereka kalau pria ini adalah sosok yang tepat untuk mengarahkan mereka sesuai dengan harapan penggemar. Pertandingan terakhir mereka melawan Fulham kembali membuktikan persepsi ini. Pertandingan ini memberi tekanan ekstra kepada pelatih mereka akibat aksi penggemar mereka yang mencemooh tim ini karena dianggap bermain dengan luluh lantak.
Thomas Frank Kembali Terpukul
Thomas Frank harus kembali menelan kekalahan yang cukup memalukan. Insiden ini terjadi saat mereka bertanding di hari Sabtu yang lalu. Momen ini akan menjadi tak terlupakan bagi mereka ketika juara bertahan Liga Eropa dari musim lalu terpaksa harus mengakui keunggulan lawan mereka. Fulham yang menguji kekuatan mereka di akhir pekan lalu langsung menyadari kalau tim ini tak bisa menahan laju permainan mereka. Dua gol berhasil mereka torehkan dalam pertandingan ini. Sementara Spurs tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa melakukan balasan di 1 kesempatan.
Minggu pertandingan ke-133 yang merkea jalani ini menjadi periode yang kurang menyenangkan bagi mereka. Kekalahan dari Fulham ini menjadi kekalahan ketiga mereka di dalam 4 pertandingan yang mereka jalani. Dua darinya yangpaling barus terjadi saat mereka menghadapi lawan yang berasal dari ibukota negara INggris.
Bukan Hal Baru bagi Skuad Thomas Frank
Penggemar Spurs jelas merasa kecewa dengan permainan yang ditunjukkan oleh tim kebanggaan mereka. Momen penuh luka ini diawali dengan pertemun mereka dengan Arsenal. Laga derbi London utara yang mereka jalani berakhir dengan perih. Satu gol yang mereka cetak rupanya jauh dari kata cukup. Arsenal berhasil membuktikan alasan mereka berada di puncak klasemen. Pemain The Gunners bermain dengan sangat beringas pada kesempatan ini. Empat gol mereka lesatkan seolah tak bisa ditahan oleh pemain Spurs. Hasil ini semakin membuktikan kalau permainan mereka tidak berkembang sebaik yang diharapkan. Kalah dari Arsenal seolah tidak cukup. Paris Saint-Germain sekali lagi membuktikan kalau tim ini benar-benar harus melakukan perubahan mendasar. Kekalahan dengan skor cukup telak 3-5 di Liga Champions menunjukkan kalau strategi yang diracik Thomas Frank jauh dari kata cukup baik.
Tapi setidaknya permainan mereka melawan PSG bisa dikatakan lebih baik. Hasil ini masih jauh lebih baik daripada haurs kebobolan 2 gol yang terjadi dalam periode singkat di 5 menit pembuka. Gol memalukan ini sekaligus menjadi rekor pertandingan kandang yang tak diinginkan bagi tim bergelar lili putih ini.
Gol yang dicetak oleh Harry Wilson dan Kenny Tete di menit keempat dan enam pertandingan ini menjadi momen paling cepat dalam sejarah LIga Primer ketika sebuah klub asal London harus kebobolan gol. Kedua gol ini sekaligus menjadi PR berat bagi tim asal ini untuk mengejar ketertinggalan mereka dari lawan. Memang pemain mereka, Mohamed Kudus, berhasil setidaknya untuk mencetak gol penghibur. Tapi gol yang muncul sebelum babak pertama ini tak cukup untuk membuat hati penggema rmereka terhibur. Tuan rumah tidak bisa menghindari kekalahan mereka kembali di Liga Primer langsung di hadapan penggemar yang menyaksikan pertandingan ini di markas kebanggaan mereka. Penggemar Spurs hanya bisa menarik nafas penuh rasa kecewa karena hasil ini menempatkan mereka tidak lebih tinggi dari peringkat 10 di klasemen sekarang.
Rekor yang Diinginkan Diraih Tottenham Hotspur
Terlepas dari kebobolan awal mereka saat melawan rivalnya, skuad Thomas Frank telah kalah di pertandingan lain di kandang mereka sendiri. Tim pelatih berdarah Denmark ini telah bermain dengan cukup baik di tandang mereka di musim ini. Mereka berhasil mengumpulkan 13 dari kemungkinan 18 dari laga tandang. Kekalahan dari Arsneal menjadi kekalahan tunggal mereka dalam skema laga tandang.
Skuad Thomas Frank juga belum berhasil mengumpulkan poin maksimal sebagia tuan rumah sejak hari pertama musim ini. Mereka harus terus berjuang sejak terakhir mengalakan Burnley dengan skor 3-0. Hasil buruk ini sekaligus menegaskan kalau tim ini punya PR yang cukup besar tentang kemampuan tempur mereka. Dengan 4 kali kalah sejak pertengahan bulan Agustus lalu ketika mereka menang dari lawannya, tim asal London utara ini sekarang telah kalah dalam 10 kesempatan langsung di depan mata penggemar merekal di tahun ini.
Menurut pertimbangan kami, catatan kekalahan tak diinginkan ini hanya pernah terjadi di tahun 1994 dan 2003 yang lalu. Waktu itu, tim ini mengalami kekalahan terbanyak dalam satu periode tahun kalender di White Hart Lane. Kekalahan yang dialami skuad aini tejradi ketika mereka kalah dari Bournemouth dengan skor 0-1, Aston Villa dengan skor 1-2, Chelsea dengan skor 0-1, dan Fulham dengan skor 1-2. Semuanya terjadi dengan hanya selisih 1 gol. Tapi rekor semacam ini sudah lebih dari cukup untuk membuat pelatih Spurs ini mengalami sendiri cemoohan yang pernah dialami oleh pendahulunya, Ange Postecoglou.
Pelatih asal Australia ini harus mengalami sendiri kalah dari Newcastle United, Manchester City, Leicester CIty, Crystal Palace, Nottingham Forest, sampai Brighton & Hove Albion. Kekalahan ini mebuat im ini mengalami kekaahan dua digit dalam periode 1 tahun kalender untuk pertama kalinya sejak mereka pindah ke markas baru di tahun 2019 di bulan April.
Memang sampai sekarang belum ada informasi yang bisa dikonfirmasi tentang masa depan yang sudah ditetapkan oleh petinggi mereka. Tapi kekalahan berikutnya yang akan terjadi dipastikan tidak akan membuat mereka merasa senang dengan situasi sekarang. Dengan hanya 2 pertandingan lagi di kandang sendiri sebelum tahun ini berakhir, melawan Brentford dan Liverpool, tim asal London utara ini mungkin akan mencetak rekor baru untuk kekalahan di kandang sendiri paling banyak untuk tahun ini. Jika benar terjadi, angka kekalahan ini akan melebihi dari yang pernah terjadi di 1994 dan 2003 yang lalu. Informasi yang berseliweran sampai sekarang mengindikasikan kalau Spurs sudah mulai mengincar beberapa nama untuk menggantikannya. Salah satunya adalah mantan pelatih Barcelona, Xavi Hernandez. Tapi sebelum keputusan ini diambil, petinggi klub memberikan bulan ini sebagai waktu penentu bagi pelatih mereka. Kekalahan lebih jauh akan berujung pada nasib fatal kepadanya.